Kesenian Betawi yang Menjadi Icon Jakarta

Semenjak dinyatakan sebagai ibu kota, penduduk Jakarta terus melonjak dengan kedatangan orang-orang dari seluruh daerah di Indonesia.

Meskipun begitu, penduduk asli Jakarta yakni suku Betawi masih bisa ditemui di kota metropolitan ini.

Secara umum, Betawi telah berasimilasi dengan berbagai budayanya bahkan menjadi ikon penting Jakarta.

Menurut data yang diperoleh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, ada empat kesenian khas Betawi yang paling populer dan dijadikan tradisi menyambut tamu negara.

“Jakarta memiliki banyak peninggalan Warisan Budaya di tengah zaman yang terus berkembang,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Arie Budhiman.

“Penduduk asli Betawi juga terus melestarikan bahasa, musik, tari, dan masakan sekaligus mampu berbaur ke dalam kehidupan Indonesia yang modern,” tambahnya.

Sebagai tuan rumah, suku Betawi berhasil membuat Jakarta seakan lekat dengan maskot utamanya yakni Ondel-ondel yang merupakan ciri khas kebanggaan dari ibu kota.

Berikut empat kesenian khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta:

1. Ondel-Ondel

Manekin raksasa yang satu ini tak dapat dipisahkan dari budaya Betawi dan Ikon Jakarta.

Ondel-ondel biasanya tampil berpasangan, sang pria mengenakan topeng merah, dengan kumis dan cambang serta pakaian berwarna gelap.

Sementara si wanita bertopeng putih dengan gincu merah dan menggunakan pakaian berwarna terang.

Keduanya dilengkapi hiasan kepala khas Melayu bernama Kembang Kelapa.

Agar bisa dimainkan dan tampak hidup, ondel-ondel dibuat dari rangka bambu yang memungkinkan orang-orang membawanya dari dalam.

Ondel-ondel biasanya tampil di barisan terdepan dari sebuah arak-arakan pada pesta pernikahan atau sunatan, diikuti oleh pengantin, keluarga, dan kerabat.

Arak-arakan dilakukan dengan mengelilingi kampung, nuansa Betawi yang diciptakan semakin kental dengan irama tanjidor atau gambang kromo mengiringinya.

2. Tari Blenggo

Tarian ini pernah populer di Batavia saat masa penjajahan Belanda.

Pengaruh Cina yang mengalir pada Betawi turut mempengaruhi gerak tarian ini sehingga terlihat mirip tari ronggeng.

Belenggo biasanya ditarikan dengan iringan tiga buah rebana dengan ukuran yang berbeda.

Ditambah lagi suara dari satu atau dua rebab yang biasanya dimainkan dengan gamelan Sunda dan terkadang diganti dengan biola atau kecapi.

Gerakan tarian sangat sederhana menyerupai tari zapin, semua penari merupakan laki-laki yang mengenakan kostum hitam mirip dengan pencak silat.

Bahkan koreografinya pun mengikuti gerakan ala pencak silat.

3. Tanjidor

Musik Tanjidor Betawi ternyata dilahirkan dari perkebunan Belanda yang terletak di pinggiran Batavia seperti Depok, Cibinong, Bogor, Bekasi, dan Tangerang.

Orang yang memainkannya adalah budak-budak seraya mempersembahkan pertunjukan untuk menir-menir Belanda.

Saat perbudakan dihapus pada abad ke-19, kelompok tanjidor tetap bermusik dengan cara mengamen demi mendapatkan penghasilan.

Pengaruh Eropa tampak jelas dari penggunaan alat musik seperti terompet, bas, klarinet, dan simbal.

Saat ini tandijor sudah melebur dengan musik tradisional Melayu, yaitu gembang kromong yang menggunakan rebana, beduk, gendang, kempul, dan masih banyak lagi.

4. Tari Lenggang Nyai

Tari Lenggang Nyai biasanya melibatkan 4 atau 6 anak perempuan. Ini merupakan tarian kreasi zaman sekarang.

Lenggang Nyai menggambarkan perempuan Betawi yang lemah gemulai dan cekatan.

Tarian ini kerap dipertontonkan pada acara-acara seni dan pariwisata luar negeri.

Perpaduan antara tari cokek dan tari topeng serta pengaruh tarian-tarian Cina membuat tarian ini terlihat menarik.

Para penari melenggang dengan mengenakan pakaian merah dan hijau terang ditambah aksesoris ikatan kepala khas Cina.

Versi lainnya dari kesenian ini ialah tari sembah nyai yang diciptakan Dadi Djaja yang dimainkan untuk penyambutan tamu.